Puasa Tasu'a Asyura di Bulan Muharram
18 June 2026 ditinjau oleh Tim Khidmat jejak imani

Muharram menyimpan banyak keistimewaan yang sudah dibahas panjang lebar mulai dari statusnya sebagai bulan haram, keutamaan berpuasa di dalamnya, hingga sejarah spiritual yang melingkupinya. Kali ini, kita masuk lebih dalam ke salah satu amalnya yang paling utama, puasa Tasu’a dan Asyura. Kita coba bahas apa itu puasa tasu’a dan asyura, kapan waktunya dan bagaimana panduan praktis pelaksanaannya.
Apa Itu Puasa Tasu’a dan Asyura?
Tasu’a berasal dari kata tis’ah (sembilan), merujuk pada puasa tanggal 9 Muharram. Sedangkan Asyura berasal dari ’asyarah (sepuluh), merujuk pada puasa tanggal 10 Muharram.
Puasa Asyura bukan tradisi baru yang dibawa Islam. Ketika Rasulullah ﷺ tiba di Madinah dan mendapati orang-orang Yahudi berpuasa, beliau bertanya. Mereka menjawab bahwa hari itu adalah hari Allah menyelamatkan Nabi Musa dan menenggelamkan Fir’aun. Maka Rasulullah ﷺ bersabda:
“نَحْنُ أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْكُمْ”
“Kami lebih berhak atas Musa daripada kalian.” (HR. Bukhari & Muslim)
Lalu beliau berpuasa dan memerintahkan para sahabat untuk ikut berpuasa. Rasulullah juga bersabda bahwa puasa paling utama setelah Ramadhan yakni puasa Muharram.
“أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ”
“Puasa paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, Muharram.” (HR. Muslim)
Kapan Waktu Pelaksanaannya?
Sebagaimana namanya, waktu pelaksanaan puasa Tasu’a adalah pada tanggal 9 Muharram, adapun puasa Asyura dilaksanakan pada tanggal 10 Muharram.
Adapun pensyariatan puasa Tasu’a telah dikisahkan oleh sahabat mulia Ibnu Abbas ra.
حِينَ صَامَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ» قَالَ: فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ، حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Artinya, "Ketika Rasulullah berpuasa pada hari Asyura dan menyuruh para sahabat juga berpuasa, mereka bertanya: "Wahai Rasulullah, hari Asyura itu adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani." Kemudian Rasulullah bersabda: "Kalau demikian, Insya Allah tahun depan kita berpuasa juga pada hari yang kesembilan”
Abdullah Ibnu Abbas melanjutkan ceritanya: "Tetapi sebelum datang tahun depan yang dimaksud, Rasulullah saw telah wafat." (HR Muslim).
Keutamaan Puasa Asyura
Rasulullah ﷺ bersabda :
“صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ”
“Puasa hari Asyura, aku berharap kepada Allah agar menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim)
Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan dalam Fath al-Bari (4/308) bahwa penghapusan dosa yang dimaksud mencakup dosa-dosa kecil, dan ini adalah bentuk fadhl (keutamaan) dari Allah yang tidak terikat syarat tertentu selain keikhlasan niat.
Adapun puasa tasu’a dianjurkan Rasulullah sebagai bentuk mukhalafah (pembeda) dari tradisi Yahudi sebagaimana yang telah disebutkan dalam hadits di atas.
Panduan Tingkatan Puasa Asyura
Di sinilah inti yang sering tidak diketahui banyak orang. Para ulama, diantaranya Ibnu Qayyim Al Jauzi dalam Zadul Maad (2/75) menyebutkan bahwa ibadah ini memiliki tingkatan derajat dalam pelaksanaannya:
1. Tingkat pertama (paling sempurna)
Puasa tiga hari berturut-turut, tanggal 9, 10 dan 11 Muharram. Ibnu Hajar dalam Fath al-Bari (Juz 4, hlm. 308) menyebutkan bahwa menambahkan hari ke-11 adalah untuk kehati-hatian (ihtiyath) terhadap perbedaan penetapan awal bulan, sekaligus mempertegas pembedaan dengan tradisi Ahli Kitab.
Tingkatan pertama ini juga didasarkan pada Hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas:
صوموا يومَ عاشوراءَ وخالفوا فيهِ اليهودَ وصوموا قَبلَهُ يومًا أو بعدَه يومًا
“Berpuasalah pada hari Asyura. Dan bedakanlah diri kalian dengan Yahudi dengan berpuasa 1 hari sebelumnya atau 1 hari setelahnya” (HR. Ahmad, Al Bazzar dan Ibn Khuzaimah, status sanad Hasan).
2. Tingkat kedua (utama dan kuat dalilnya)
Puasa dua hari, tanggal 9 dan 10 Muharram. Inilah yang paling banyak diamalkan para ulama salaf dan paling jelas riwayatnya. Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu’ (6/387) menegaskan bahwa puasa Asyura adalah sunnah muakkadah, dan menggabungkannya dengan Tasu’a adalah kesempurnaan yang sangat dianjurkan.
3. Tingkat ketiga (minimal namun tetap sah)
Puasa satu hari saja, tanggal 10 Muharram. Keutamaannya tetap diraih, meskipun tidak lengkap. Lebih baik satu hari daripada tidak sama sekali.
Niat Puasa Tasu’a dan Asyura
Niat dalam ibadah pada dasarnya dilakukan di dalam hati, namun kemudian sangat diperbolehkan untuk dilafalkan.
Berikut niat puasa tasu’a:
نَوَيْتُ صَوْمَ تَاسُوعَاءَ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى
Nawaitu Shauma Tasu’a sunnatan lillahi ta’ala
Artinya: “Saya berniat berpuasa tasu’a sunnah karena Allah”
Berikut niat puasa asyura:
نَوَيْتُ صَوْمَ عَاشُورَاءَ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى
Nawaitu Shauma Asyura sunnatan lillahi ta’ala
Artinya: “Saya berniat berpuasa Asyura sunnah karena Allah”
Niat puasa sunnah boleh dilakukan di pagi hari selama belum makan, minum, atau melakukan hal yang membatalkan puasa sejak subuh. (Lihat: Nawawi, Al-Majmu’, 6/309)
Penutup
Muharram adalah undangan Allah untuk memperbanyak amal. Puasa tasu’a dan asyura adalah salah satu pintu termudah untuk meraih pengampunan dosa setahun penuh. Mulai dari tingkat paling sederhana pun tidak mengapa, yang penting tidak terlewat sama sekali.
Semoga Allah mudahkan kita untuk bisa mengerjakan sunnah Rasulullah, sebagai langkah terbaik untuk mendekatkan diri pada-Nya. Selain puasa, salah satu amalan sunnah yang dapat dilakukan di bulan Muharram adalah umroh.
Bagi yang ingin melakukan perjalanan ibadah ke Tanah Suci, Anda dapat mempercayakan perjalanan ibadah haji dan umroh bersama jejak imani.
jejak imani adalah travel haji dan umroh sejak tahun 2012 dengan nama PT JEJAK IMANI BERKAH BERSAMA yang sudah berizin resmi sebagai Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) dan Penyelenggara Ibadah Haji Khusus (PIHK) dari Kemenag. Anda juga bisa menanyakanan dan konsultasi dengan tim jejak imani terkait kebutuhan selama ibadah umroh di Tanah Suci.
Semoga bermanfaat!
Dilihat 13 kali


