Ingin dapat penawaran khusus untuk Anda? Konsultasi sekarang!

Nikmatnya Menunaikan Ibadah Haji Bersama Pasangan, Ini Hal yang Perlu diperhatikan

02 November 2026 ditinjau oleh Tim Khidmat jejak imani

article-thumbnail

Ada perjalanan yang terasa berbeda ketika dijalani bersama orang yang kita cintai. Begitu pula perjalanan menuju Baitullah.

Menunaikan ibadah haji bersama suami atau istri bukan hanya menjadi kesempatan untuk beribadah bersama, tetapi juga momentum untuk saling menguatkan dalam ketaatan. Di tengah perjalanan yang panjang, kelelahan, dan padatnya rangkaian manasik, pasangan belajar tentang kesabaran, pengorbanan, dan arti saling menjaga karena Allah.

1. Jadikan perjalanan haji sebagai jalan untuk saling mendekat kepada Allah

Kebersamaan di Tanah Suci hendaknya tidak hanya menghadirkan kenangan indah, tetapi juga memperkuat iman dan memperbaiki hubungan suami istri. Saling mengingatkan untuk beribadah, membantu ketika lelah, dan menjaga lisan saat menghadapi kesulitan merupakan bagian dari kebaikan yang dapat dilakukan bersama. Allah berfirman:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takwa.” (QS. Al-Ma'idah: 2).

2. Pahami ketentuan ihram dan jagalah adab sebagai pasangan

Ketika telah memasuki keadaan ihram, suami dan istri wajib memperhatikan larangan-larangannya, termasuk hubungan seksual dan hal-hal yang menjadi pendahuluannya. Karena itu, penting bagi pasangan untuk mempelajari fikih haji sebelum berangkat, agar ibadah terlaksana sesuai tuntunan syariat. Allah berfirman:

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ ۚ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ

“Musim haji itu pada bulan-bulan yang telah dimaklumi. Barang siapa mengerjakan haji dalam bulan-bulan itu, janganlah dia berkata jorok, berbuat maksiat, dan bertengkar dalam haji.” (QS. Al-Baqarah: 197).

Ayat ini mengingatkan bahwa haji bukan hanya tentang menyelesaikan rangkaian manasik, tetapi juga menjaga perilaku dan akhlak selama menjalankannya.

3. Belajarlah bersabar dan berlapang dada terhadap pasangan

Haji bukan perjalanan yang selalu nyaman. Ada kepadatan, cuaca yang melelahkan, perubahan jadwal, dan kondisi fisik yang terkadang menurun. Dalam keadaan seperti ini, pasangan membutuhkan lebih banyak pengertian daripada tuntutan.

Ibnul Qayyim رحمه الله berkata dalam Madarij as-Salikin ketika menjelaskan kesabaran:

الصَّبْرُ حَبْسُ النَّفْسِ عَنِ الْجَزَعِ، وَحَبْسُ اللِّسَانِ عَنِ التَّشَكِّي، وَحَبْسُ الْجَوَارِحِ عَنِ الْمَعَاصِي

“Kesabaran adalah menahan diri dari kegelisahan, menahan lisan dari keluh kesah, dan menahan anggota tubuh dari perbuatan maksiat.”

Nasihat ini mengajarkan bahwa kesabaran tidak cukup hanya dengan diam ketika menghadapi kesulitan. Ia juga menuntut kita menjaga ucapan dan tindakan, terutama kepada orang yang paling dekat dengan kita. Ketika pasangan sedang lelah, berikan pengertian. Ketika terjadi kesalahpahaman, pilihlah kelembutan daripada memperpanjang pertengkaran.

4. Jangan abaikan kesehatan dan hak orang lain

Pastikan kondisi fisik cukup prima, ikuti arahan pembimbing, cukupi kebutuhan cairan, dan beristirahat sesuai kebutuhan. Ketika berada di tengah kerumunan, jangan hanya memikirkan kenyamanan pasangan sendiri, tetapi perhatikan pula keselamatan dan hak jamaah lainnya.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ

“Tidak boleh melakukan sesuatu yang membahayakan diri sendiri maupun orang lain.” (HR. Ibnu Majah).

Prinsip ini penting diterapkan selama berhaji. Membantu pasangan memang merupakan kebaikan, tetapi jangan sampai dilakukan dengan membahayakan diri sendiri atau mengganggu keselamatan jamaah lain.

Pada akhirnya, haji bersama pasangan bukan sekadar tentang berdiri berdampingan di hadapan Ka'bah. Lebih dari itu, ia adalah kesempatan untuk membuktikan bahwa cinta tidak hanya tumbuh dalam keadaan lapang, tetapi juga bertahan ketika diuji oleh kelelahan dan kesulitan.

Semoga Allah memudahkan kita untuk bisa berhaji bersama pasangan dan keluarga kita. Apabila Anda ingin melaksanakan umroh yang amanah dan terpercaya bisa berangkat dengan jejak imani, travel haji dan umroh yang berizin telah berizin resmi sebagai PIHK (Penyelenggara Ibadah Haji Khusus) dan PPIU (Pihak Penyelenggara Ibadah Umrah).

Wallahua’lam bisshowab.

Dilihat 30 kali