Misi Berburu Malam Lailatul Qadar, Lakukan Amalan Ini!
06 February 2026 ditinjau oleh Tim Khidmat jejak imani

Memaksimalkan amalan Lailatul Qadar merupakan kunci sukses meraih keutamaan yang disebut lebih baik dari seribu bulan. Setiap muslim perlu untuk memahaminya agar tidak melewatkan kesempatan tak ternilai ini.
Banyak yang berharap sukses mendulang limpahan pahala di malam itu, namun sayangnya tidak semua memahami amalan Lailatul Qadar yang pernah diajarkan baginda Rasulullah ﷺ.
Agar dapat memaksimalkan kesempatan emas ini, kita perlu mempelajari serta mengamalkan amalan Lailatul Qadar yang dapat memperbaiki catatan amal perbuatan kita, serta takdir dan nasib di masa yang akan datang.
Oleh karena itu, kami telah merangkum penjelasan tentang amalan Lailatul Qadar yang perlu diketahui setiap muslim agar misi berburu malam seribu bulan berjalan baik.
Anjuran Memperbanyak Amalan Lailatul Qadar
Menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan memperbanyak amal saleh adalah sunnah yang sangat besar pahalanya bagi seorang hamba. Bayangkan saja, amal kebaikan di malam Lailatul Qadar lebih utama dari amalan seribu bulan, yang bila dikonversikan setara dengan 83 tahun 4 bulan.
Allah ﷻ berfirman:
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 3).
Para Ulama berbeda pendapat mengenai kapan persisnya terjadi Lailatul Qadar. Bahkan Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan ada lebih dari 40 pendapat Ulama yang berbeda mengenai waktu Lailatul Qadar.
Terlepas dari itu, yang paling utama, berdasarkan petunjuk Rasulullah ﷺ kepada umatnya ialah agar kita memaksimalkan ibadah di sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, terlebih di malam-malam ganjil.
Rasulullah ﷺ bersabda:
تَحَرَّوا لَيْلَةَ القَدْرِ في الوِتْرِ من العَشْرِ الأوَاخِرِ مِنْ رَمَضانَ
“Carilah Lailatul Qadar di malam-malam ganjil di sepuluh terakhir bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Amalan Lailatul Qadar
Upaya mendapat malam Lailatul Qadar yaitu dengan melaksanakan beberapa amalan sunnah di 10 malam terakhir Ramadhan. Berikut beberapa amalan Lailatul Qadar.
1. Tahajjud
Di antara amalan Lailatul Qadar yang paling utama ialah melakukan sholat malam atau tahajjud. Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
"Barang siapa yang mendirikan (menghidupkan) malam Lailatul Qadar karena iman kepada Allah dan mengharap pahala (ihtisab), maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu". (HR. Bukhari dan Muslim)
Sholat malam di waktu itu menjadi penggugur atas dosa-dosa di masa lampau, sebanyak apapun dosa-dosa itu. Namun untuk menggugurkan dosa besar haruslah didahului dengan taubat nasuha, sebagai syarat diampuninya dosa tersebut.
2. Memperbanyak Berdoa
Doa di malam Lailatul Qadar adalah doa yang mustajab. Kita dianjurkan untuk banyak berdoa baik untuk akhirat maupun dunia kita.
Ibunda Aisyah RA pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang amalan Lailatul Qadar. Beliau berkata: “Wahai Rasulullah, menurutmu jika aku mendapati Lailatul Qadar apa yang aku baca?” Rasulullah ﷺ menjawab: “Bacalah:
اَللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ اَلْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
Allahumma innaka 'afuwwun karim tuhibbul 'afwa fa'fu 'anni
"Ya Allah, sungguh Engkau maha pemaaf lagi pemurah. Engkau suka memaafkan. Maka, maafkanlah aku." (HR. Tirmidzi)
3. Membaca Al-Quran
Membaca Al-Quran sebagai amalan Lailatul Qadar sangatlah dianjurkan. Karena disebutkan pada ayat pertama surat Al-Qadr bahwa diturunkannya Al-Quran untuk pertama kali bertepatan dengan Lailatul Qadar. Maka memperbanyak tilawah di malam itu berarti menghidupkan malam diturunkannya Al-Quran dengan Al-Quran itu sendiri.
Selain itu, membaca Al-Quran mendatangkan banyak sekali kebaikan, karena setiap huruf yang dibaca bernilai pahala. Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ حَسَنَةٌ وَالحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا
“Barang siapa membaca satu huruf dari Kitabullah, maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh” (HR. Tirmidzi)
Bayangkanlah! berapa banyak kebaikan dan pahala yang diraih seorang hamba bila tilawah di malam itu dikalikan seribu bulan?
Namun perlu diperhatikan, cara membaca Al-Quran yang terbaik ialah dengan bacaan yang tartil. Allah ﷻ berfirman:
وَرَتِّلِ الْقُرْاٰنَ تَرْتِيْلًاۗ
“… dan bacalah Al-Qur'an itu dengan perlahan-lahan.” (QS. Al-Muzammil: 4)
Bacaan tartil ialah bacaan yang perlahan, fasih, dan merasakan arti dan maksud dari ayat-ayat yang dibaca itu, sehingga berkesan di hati.
4. Tafakur
Al-Quran diturunkan tidak hanya untuk dibaca, namun untuk ditadaburi (direnungi) dan ditafakuri (difikirkan). Karena dengan cara itulah, hidayah akan datang dan menerangi isi hati.
Tafakur dan tadabur Al-Qur’an dapat menjadi amalan Lailatul Qadar sebagaimana Nabi ﷺ senantiasa bertafakur di malam hari, terlebih di sepuluh terakhir Ramadhan. Dalam kitab Lathaiful Ma’arif, Ibnu Rajab menyebutkan:
“Nabi ﷺ biasa melaksanakan sholat tahajjud pada malam-malam Ramadhan dengan membaca Al-Quran secara tartil (perlahan dan jelas); beliau tidak melewati ayat tentang rahmat kecuali beliau memohon rahmat tersebut, dan tidak melewati ayat tentang azab kecuali beliau memohon perlindungan darinya, sehingga beliau menggabungkan sholat, bacaan Al-Quran, doa, dan tafakur, dan inilah amalan yang paling utama serta paling sempurna, baik pada sepuluh malam terakhir maupun pada malam-malam lainnya.”
5. Itikaf
Amalan Lailatul Qadar lainnya yang sangat dianjurkan ialah itikaf. Itikaf adalah berdiam diri di masjid dengan niat beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah ﷻ. Rasulullah ﷺ selalu beritikaf di 10 hari terakhir bulan Ramadhan, sebagaimana disebutkan dalam hadits:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ
"Rasulullah ﷺ terbiasa itikaf di sepuluh terakhir Ramadhan hingga Allah mewafatkannya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Bahkan di tahun wafatnya, beliau beritikaf 20 hari lamanya untuk menyibukkan diri dengan beribadah di masjid.
6. Mandi dan Berhias Diri
Mandi sunnah sebelum Isya di sepuluh hari terakhir Ramadhan adalah salah satu amalan Lailatul Qadar yang dianjurkan. Ibnu Rajab dalam Lathaiful Ma’arif menyebutkan sebuah riwayat yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi ‘Ashim bahwa, Nabi ﷺ terbiasa mandi sebelum Isya di sepuluh malam terakhir Ramadhan. Walaupun tidak dengan bahasa yang lugas menyatakan keshahihan hadits tersebut namun riwayat tersebut tetap dapat diamalkan, sebagaimana praktek dan contoh dari generasi salaf.
Ibnu Jarir mengatakan: “Dahulu mereka (salafus shalih) menganjurkan mandi tiap malam dari sepuluh malam terakhir.”
Hammad bin Salamah mengatakan: “Dahulu Tsabit Al-Banani dan Humaid At-Thawil mengenakan pakaian terbaiknya, menggunakan wewangian, mengharumkan masjid dengan bermacam wewangian di malam yang diharapkan terjadi Lailatul Qadar.”
Tsabit Al-Banani berkata: “Tamim Ad-Dari RA memiliki pakaian seharga seribu dirham yang dikenakan di malam yang diharapkan terjadi Lailatul Qadar.”
Demikianlah penjelasan sebagian amalan Lailatul Qadar yang sangat dianjurkan. Pada intinya, di sepuluh malam terakhir, kita diperintahkan untuk menambah porsi ibadah melebihi hari-hari biasanya. Tidak hanya diri pribadi, namun mengajak serta seluruh anggota keluarga untuk turut menghidupkan malam-malam yang penuh kemuliaan tersebut dengan melakukan amalan-amalan Lailatul Qadar.
Bagi yang ingin merasakan beribadah yang nikmat pada 10 malam terakhir bulan Ramadhan di tanah suci, bisa mempercayakan perjalanan umroh bersama jejak imani.
jejak imani adalah travel haji dan umroh sejak tahun 2012 dengan nama PT JEJAK IMANI BERKAH BERSAMA yang sudah berizin resmi sebagai Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) dan Penyelenggara Ibadah Haji Khusus (PIHK). Anda juga bisa menanyakanan dan konsultasi dengan tim jejak imani terkait kebutuhan selama ibadah umroh di Tanah Suci.
Wallahu A’lam.
Dilihat 210 kali


