Wanita Bekerja dalam Islam di Peradaban yang Sedang Diuji
03 May 2026 ditinjau oleh Tim Khidmat jejak imani

“Ada bayi menangis di daycare. Ada kantong ASI di puing kecelakaan.” Kalimat ini menggambarkan realitas berat yang dihadapi banyak wanita bekerja dalam islam saat ini. Mereka berangkat membawa bekal cinta, namun terkadang pulang membawa lelah yang tak terlukiskan, atau bahkan tak pulang sama sekali karena musibah.
Beberapa hari ini, hati banyak orang seperti diremas. Kita membaca Daycare Little Aresha di Yogyakarta digerebek polisi atas dugaan penyiksaan terhadap anak dan balita yang dititipkan. Bukti video menunjukkan kondisi balita yang kaki terikat dan hanya mengenakan popok saat tidur. Kita membaca berita tentang anak-anak yang disiksa di daycare oleh tangan yang seharusnya menjaga, menangis, tanpa pelukan ibunya. Fenomena ini memicu diskusi hangat mengenai bagaimana posisi dan perlindungan terhadap wanita bekerja dalam islam.
Di saat yang sama, publik dikejutkan kabar kecelakaan kereta di Bekasi Timur. Di antara puing gerbong perempuan ditemukan sejumlah cooler bag berisi ASI.
Ini bukan sekadar berita. Ini potret zaman. Potret perempuan-perempuan yang berlari di antara dua amanah: amanah rumah dan amanah mencari nafkah. Lantas bagaimana pandangan Islam terhadap wanita-wanita pekerja?
Islam Memuliakan Wanita
Dalam Sirah Nabawiyah, Islam begitu memuliakan peran keibuan dengan kemuliaan yang tak tergantikan. Allah berfirman:
وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ ۖ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ
“Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah.” (QS. Luqmān: 14)
Imam Ibnu Katsir menjelaskan:
أَيْ قَاسَتْ بِسَبَبِهِ شَدَائِدَ وَمَشَاقَّ
“Yakni sang ibu menanggung karenanya berbagai kesulitan dan kepayahan.” (Tafsīr Ibnu Katsīr, jilid 6, hlm. 336, Dār Ṭayyibah).
Hukum Wanita Bekerja dalam Islam
Dalam catatan sejarah atau Sirah Nabawiyah, kita mengenal sosok-sosok hebat yang membuktikan bahwa peran wanita bekerja dalam islam sangatlah mulia. Islam tidak pernah membelenggu potensi perempuan selama memenuhi syariat dan adab tetap terjaga.
Dalam sirah, Asmā’ binti Abū Bakar radhiyallāhu ‘anhumā adalah sosok perempuan pekerja dalam Islam. Ia memikul kurma di atas kepalanya dari kebun Zubair. Dalam Shahih al-Bukhari disebut :
كُنْتُ أَنْقُلُ النَّوَى مِنْ أَرْضِ الزُّبَيْرِ
“Aku pernah memindahkan biji kurma dari tanah milik Zubair.” (HR. Bukhari).
Jadi, wanita bekerja dalam Islam bukan aib bagi wanita bila ada kebutuhan dan adabnya terjaga. Khadijah binti Khuwailid radhiyallāhu ‘anhā merupakan seorang pebisnis besar. Hartanya menopang dakwah. Namun di balik itu, beliau tetap menjadi tempat pulang Rasulullah ﷺ. Saat Nabi gemetar usai menerima wahyu, Khadijah yang menenangkan. Beliau membuktikan bahwa wanita bekerja dalam islam bisa menjadi pilar kekuatan bagi agama dan keluarga.
Seakan Islam ingin berkata: perempuan boleh kuat di luar, tapi jangan dipaksa runtuh di dalam. Syaikh Wahbah az-Zuhaili berkata:
الْأُمُّ أَحَقُّ بِحَضَانَةِ الْوَلَدِ مَا دَامَتْ صَالِحَةً لِذَٰلِكَ
“Ibu adalah pihak yang paling berhak mengasuh anak selama ia layak untuk itu.” (Al-Fiqh al-Islāmī wa Adillatuhu, jilid 10, hlm. 7297, Dār al-Fikr).
Realitas Ekonomi & Sosial Wanita Bekerja
Realitas hari ini memaksa sebagian ibu menyerahkan pengasuhan kepada orang lain. Bukan karena tak cinta, tapi karena keadaan, tagihan hingga harga kebutuhan hidup yang tak murah hingga kebermanfaatan bagi orang lain.
Maka, tragedi daycare bukan hanya soal oknum zalim. Ini juga alarm sosial: negara, masyarakat, dan keluarga sedang gagal menghadirkan ruang aman bagi ibu dan anak. Rasulullah ﷺ bersabda:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban.” (HR. Muslim, Dār Ihyā’ at-Turāts).
Dalam hal ini, suami, negara, pengasuh bahkan masyarakat juga bertanggung jawab.
Penutup
Tangisan bayi di daycare itu mungkin bukan hanya memanggil ibunya. Tapi memanggil nurani kita. Kantong-kantong ASI yang ditemukan di kecelakaan itu bukan sekadar benda; ia adalah syahidnya cinta seorang wanita bekerja dalam Islam yang tetap ingin memberi kehidupan, bahkan saat maut menjemput di perjalanan.
Jangan mudah menghakimi pilihan seorang ibu. Di balik keputusan menjadi wanita bekerja dalam islam, sering kali ada air mata yang tumpah saat memompa ASI di ruang kantor atau doa yang tak putus saat menatap layar CCTV daycare.
Jihad ini senyap, namun di sisi Allah, lelahnya seorang wanita bekerja dalam islam mungkin memiliki nilai yang jauh lebih mulia daripada sekadar angka di atas slip gaji.
Dilihat 22 kali


