Adakah Doa Melihat Ka’bah?
04 August 2026 ditinjau oleh Tim Khidmat jejak imani

Makkah merupakan tanah suci yang dimuliakan Allah ﷻ dan menjadi tempat berdirinya Baitullah, Ka'bah, kiblat seluruh umat Islam. Setiap jamaah haji dan umroh dari seluruh dunia pasti berkunjung ke Ka’bah karena selain menjadi kiblat, Ka’bah juga menjadi tempat tawaf yang merupakan rukun dari haji dan umroh. Begitu istimewanya Ka’bah bagi umat Islam di seluruh dunia, lantas apakah ada ritual atau doa khusus saat memandang Ka’bah?
Apa itu Ka’bah?
Ka'bah adalah rumah Allah ﷻ (Baitullah) yang memiliki kedudukan paling mulia di muka bumi. Letaknya berada di tengah Masjidil Haram dan berbentuk bangunan menyerupai kubus dengan atap tertutup. Meskipun demikian, keempat sisi Ka’bah tidak memiliki ukuran yang sama.
Adapun dimensinya adalah sebagai berikut: sisi yang terdapat pintu Ka'bah memiliki panjang sekitar 11,68 meter; sisi yang menghadap Hijr Ismail sekitar 9,90 meter; sisi antara Rukun Syami dan Rukun Yamani sekitar 12,04 meter; sedangkan sisi antara Hajar Aswad dan Rukun Yamani sekitar 10,18 meter. Tinggi Ka'bah mencapai sekitar 14 meter, dengan luas dasar bangunan kurang lebih 145 meter persegi.
Penyebutan kata Ka'bah dalam Al-Qur'an terdapat pada dua ayat. Pertama, dalam firman Allah ﷻ:
جَعَلَ اللّٰهُ الْكَعْبَةَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ قِيٰمًا لِّلنَّاسِ
Artinya: "Allah telah menjadikan Ka'bah, Baitul Haram itu, sebagai penegak (agama dan urusan hidup) bagi manusia." (QS. Al-Mā'idah: 97)
Kedua, dalam firman-Nya:
يَحْكُمُ بِهٖ ذَوَا عَدْلٍ مِّنْكُمْ هَدْيًا ۢ بٰلِغَ الْكَعْبَةِ
"...yang diputuskan oleh dua orang yang adil di antara kamu sebagai hadyu (hewan kurban) yang dibawa sampai ke Ka'bah." (QS. Al-Mā'idah: 95)
Di antara makna yang terkandung dalam kata Ka'bah adalah ketinggian, kemuliaan, kehormatan, dan keagungan. Az-Zabīdī menjelaskan dalam Tāj al-'Arūs min Jawāhir al-Qāmūs bahwa salah satu makna kata ka'b adalah ketinggian, kemuliaan, dan kehormatan. Oleh karena itu, ungkapan "A‘lallāhu ka‘bahu" (أعلى الله كعبه) bermakna, "Semoga Allah meninggikan kedudukan dan kemuliaannya."
Demikian pula dalam hadis tentang Qailah terdapat doa, "Wallāhi lā yazālu ka‘buka ‘āliyan" (والله لا يزال كعبك عاليًا), yang berarti, "Demi Allah, semoga kemuliaan dan kedudukanmu senantiasa tinggi." Ungkapan tersebut merupakan doa agar seseorang dianugerahi kehormatan, keluhuran derajat, dan kemuliaan.
Dari makna tersebut, nama Ka'bah disematkan kepada Baitullah al-Haram, semoga Allah senantiasa menambah kemuliaan dan kehormatannya. Penamaan ini menunjukkan kedudukan Ka’bah yang tinggi, agung dan mulia di sisi Allah ﷻ, sehingga menjadi bangunan yang paling dihormati dan dimuliakan oleh seluruh kaum Muslimin di dunia.
Para ulama menjelaskan bahwa Allah ﷻ menjadikan Baitullah al-Haram sebagai tempat yang selalu didatangi manusia, sumber rasa aman dan ketenteraman, serta tempat berkumpulnya hamba-hamba-Nya untuk beribadah kepada-Nya. Hati mereka senantiasa merindukan Baitullah, sementara jiwa mereka terus terpaut kepadanya. Kerinduan itu tidak pernah terpuaskan, sekalipun mereka berkesempatan mengunjunginya setiap tahun.
Keadaan tersebut merupakan wujud dikabulkannya doa Nabi Ibrahim `alaihissalām ketika beliau memohon kepada Allah ﷻ:
فَاجْعَلْ اَفْـِٕدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِيْٓ اِلَيْهِمْ
Artinya: "Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung dan merindukan mereka." (QS. Ibrahim: 37)
Doa ini menjadi salah satu sebab mengapa Allah ﷻ menanamkan kecintaan yang mendalam terhadap Makkah dan Ka'bah di dalam hati setiap muslim sepanjang zaman. Kerinduan kepada Baitullah tidak pernah pudar, bahkan semakin bertambah setiap kali seseorang mengunjungi Baitullah.
Adakah Bacaan atau Doa Saat Melihat Ka’bah?
Terdapat riwayat hadis dan juga atsar bacaan doa melihat Ka’bah.
Yang pertama, Dalam sebuah riwayat dari Hudzaifah bin Usaid radhiyallāhu 'anhu disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ apabila memandang atau melihat Ka’bah / Baitullah, beliau berdoa:
اللَّهُمَّ زِدْ بَيْتَكَ هَذَا تَشْرِيفًا وَتَعْظِيمًا وَتَكْرِيمًا، وَبِرًّا وَمَهَابَةً، وَزِدْ مَنْ شَرَّفَهُ وَعَظَّمَهُ مِمَّنْ حَجَّهُ وَاعْتَمَرَهُ تَعْظِيمًا وَتَشْرِيفًا وَبِرًّا وَمَهَابَةً.
Allāhumma zid baitaka hāżā tasyrīfan wa ta‘ẓīman wa takrīman, wa birran wa mahābah, wa zid man syarrafahu wa ‘aẓẓamahu mimman ḥajjahu wa‘tamarahu ta‘ẓīman wa tasyrīfan wa birran wa mahābah.
Artinya: "Ya Allah, tambahkanlah kepada rumah-Mu ini kemuliaan, keagungan, kehormatan, kebaikan, dan kewibawaan. Tambahkan pula kepada orang-orang yang memuliakan dan mengagungkannya dengan menunaikan ibadah haji dan umrah, kemuliaan, keagungan, kebaikan, dan kewibawaan." (HR. Ath-Thabrani)
Para ulama hadis menilai bahwa sanad riwayat tersebut berstatus lemah (dhaif). Meskipun demikian, sebagian ulama membolehkan pengamalan hadis dhaif dalam ranah faḍā'il al-a‘māl (keutamaan amal), selama tidak berkaitan dengan penetapan akidah maupun hukum syariat, serta memenuhi syarat-syarat yang telah ditetapkan oleh para ahli hadis.
Yang kedua, Atsar (riwayat) dari Umar bin al-Khaththab radhiyallāhu 'anhu ketika melihat Ka'bah, beliau membaca:
اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ، وَمِنْكَ السَّلَامُ، فَحَيِّنَا رَبَّنَا بِالسَّلَامِ
Allāhumma anta as-Salām, wa minka as-salām, faḥayyinā rabbanā bis-salām.
Artinya: "Ya Allah, Engkaulah As-Salām, dari-Mu lah segala keselamatan. Maka hidupkanlah kami dengan keselamatan, wahai Tuhan kami." (Ibnu Abi Syaibah, Al-Muṣannaf, Kitāb al-Ḥajj atsar no. 16487)
Riwayat ini mauqūf, yaitu hanya sampai kepada Umar bin al-Khaththab dan bukan sabda Nabi ﷺ.
Imam An-Nawawi dalam Al-Idhāḥ fī Manāsik al-Ḥajj menjelaskan bahwa saat pertama kali memandang Ka'bah merupakan salah satu momen yang sangat istimewa. Oleh karena itu, setiap Muslim ketika melihat Ka’bah dianjurkan untuk memperbanyak doa dengan penuh kekhusyukan, karena waktu tersebut termasuk saat yang diharapkan menjadi mustajab.
Beliau juga menyebutkan doa melihat Ka’bah "اللَّهُمَّ زِدْ هَذَا الْبَيْتَ..." sebagai doa yang diriwayatkan dan diamalkan oleh banyak ulama. Namun demikian, Imam An-Nawawi menegaskan bahwa tidak terdapat hadis sahih yang secara khusus menetapkan doa tertentu dari Rasulullah ﷺ ketika pertama kali melihat Ka'bah.
Kesimpulan
Ka'bah bukan sekadar bangunan suci yang menjadi kiblat umat Islam, melainkan simbol tauhid, persatuan, dan ketundukan kepada Allah ﷻ. Kemuliaannya telah ditetapkan oleh Allah sejak dahulu dan dijelaskan oleh Al-Qur'an, hadis, serta para ulama. Tidak mengherankan jika setiap hati orang beriman selalu merindukan untuk menatapnya, mengelilinginya dalam ibadah tawaf, dan bersujud kepada Allah di hadapannya. Kerinduan tersebut merupakan bagian dari keberkahan doa Nabi Ibrahim `alaihissalām yang Allah ﷻ kabulkan hingga hari ini, sehingga Ka'bah senantiasa menjadi tujuan hati jutaan kaum Muslimin dari seluruh penjuru dunia.
Adapun mengenai doa melihat Ka'bah, para ulama menjelaskan bahwa tidak terdapat hadis sahih yang menetapkan bacaan tertentu dari Rasulullah ﷺ. Riwayat-riwayat yang ada, baik yang berasal dari Nabi ﷺ maupun atsar para sahabat, tetap dapat dijadikan sebagai motivasi untuk memperbanyak doa dan mengagungkan Baitullah tanpa meyakini adanya lafadz khusus yang disyariatkan. Karena itu, saat pandangan pertama tertuju kepada Ka'bah hendaknya menjadi kesempatan berharga untuk memuji Allah ﷻ, mengagungkan-Nya, memperbanyak istighfar, bershalawat kepada Nabi ﷺ, serta memohon segala kebaikan dunia dan akhirat. Semoga Allah ﷻ menganugerahkan kepada kita semua kesempatan untuk menjadi tamu-Nya, memandang Ka'bah dengan penuh keimanan, serta menerima setiap doa dan amal ibadah yang dipanjatkan di hadapan Baitullah al-Haram. Āmīn.
Bagi yang ingin mengunjungi Baitullah, Anda dapat mempercayakan perjalanan ibadah haji dan umroh bersama jejak imani. jejak imani adalah travel haji dan umroh sejak tahun 2012 dengan nama PT JEJAK IMANI BERKAH BERSAMA yang sudah berizin resmi sebagai Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) dan Penyelenggara Ibadah Haji Khusus (PIHK). Anda juga bisa menanyakanan dan konsultasi dengan tim jejak imani terkait kebutuhan selama ibadah di Tanah Suci.
Wallahua’lam bisshowab.
Dilihat 17 kali


