Ingin dapat penawaran khusus untuk Anda? Konsultasi sekarang!

Sholat Tarawih 8 atau 20 Rakaat, Mana yang Lebih Utama?

30 January 2026 ditinjau oleh Tim Khidmat jejak imani

article-thumbnail

Setiap bulan Ramadan tiba, satu pertanyaan klasik selalu muncul di tengah umat Islam: sholat tarawih sebaiknya 8 rakaat atau 20 rakaat? Perbedaan ini sering memunculkan perdebatan, padahal sejatinya sholat tarawih telah ada sejak masa para ulama terdahulu. Perbedaan jumlah rakaat tarawih bukanlah soal benar dan salah, melainkan perbedaan cara dalam menghidupkan ibadah malam Ramadhan.

Keutamaan Sholat Tarawih

Sholat tarawih adalah bagian dari qiyamul lail yang dikhususkan pada malam-malam bulan Ramadhan. Keutamaannya sangat besar, sebagaimana sabda Rasulullah:

مَن قَامَ رَمَضَانَ إيمَانًا واحْتِسَابًا، غُفِرَ له ما تَقَدَّمَ مِن ذَنْبِهِ

“Barang siapa mendirikan sholat malam dibulan Ramadan karena iman dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menunjukkan bahwa yang paling utama dari tarawih bukanlah jumlah rakaatnya, tetapi keikhlasan, kekhusyukan, dan konsistensi dalam menjalankannya.

Dalam hal sholat tarawih, ada dua opsi yang dilakukan oleh umat muslim. Sholat tarawih 8 rakaat dan 20 rakaat, apakah keduanya sah dilakukan? Simak landasan dalil keduanya di bawah ini.

Sholat Tarawih 8 Rakaat: Landasan Dalil

Pendapat tarawih 8 rakaat merujuk pada hadits dari Aisyah r.a.:

قَالَتْ: مَا كَانَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلاَ غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً، يُصَلِّي أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ، ثُمَّ أَرْبَعًا فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ، ثُمَّ يُصَلِّي ثَلاَثًا

“Rasulullah tidak pernah sholat malam di bulan Ramadhan dan di luar Ramadhan lebih dari sebelas rakaat. Beliau sholat 4 rakaat dan jangan tanya terkait bagaimana baiknya dan panjangnya sholat beliau, lalu sholat 4 rakaat dan jangan tanya terkait bagaimana baiknya dan panjangnya shalat beliau, lalu beliau shalat 3 rakaat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sebelas rakaat dalam hadits ini dipahami oleh sebagian ulama sebagai 8 rakaat tarawih dan 3 rakaat witir. Pendapat ini banyak dipegang oleh ulama hadits dan sebagian ulama kontemporer, karena dianggap paling mendekati praktik Rasulullah secara langsung dan secara langsung tersurat jumlah rakaatnya.

Namun demikian, cukup banyak pendapat ulama yang menyatakan bahwa hadits Aisyah ini menjelaskan mengenai jumlah bilangan sholat witir yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ yang berjumlah 11 rakaat. Walaupun banyak riwayat lain juga yang menyebutkan jumlah bilangan lainnya.

Sholat Tarawih 20 Rakaat: Landasan Dalil dan Praktik Sahabat

Sementara itu, tarawih 20 rakaat memiliki dasar kuat dari praktik para sahabat. Pada masa Khalifah Umar bin Khattab r.a., kaum Muslimin melaksanakan sholat tarawih berjamaah sebanyak 20 rakaat.

Imam Malik meriwayatkan dalam Al-Muwaththa’ bahwa:


كَانَ النَّاسُ يَقُومُونَ فِي زَمَانِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فِي رَمَضَانَ بِثَلاثٍ وَعِشْرِينَ رَكْعَةً. (أخرجه مالك)

“Di zaman Umar bin Khattab, orang-orang melaksanakan shalat (qiyam Ramadhan) sebanyak 23 rakaat.” (HR. Malik)

Menurut imam Baihaqī, al-Bājī dan lainnya, yang dimaksud dengan 23 rakaat dalam hadits ini adalah 20 rakaat shalat tarawih dan yang 3 rakaat adalah sholat witir. Hal ini diperkuat oleh Riwayat Sāīb bin Yazīd bahwa masyarakat pada masa Umar bin Khattab melaksanakan shalat sebanyak 20 rakaat.

Pendapat ini juga dianut oleh jumhur ulama dari mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali. Imam Nawawi dalam Al-Majmu’ menegaskan bahwa sholat tarawih 20 rakaat adalah amalan yang telah berjalan luas di kalangan kaum Muslimin dan memiliki legitimasi syar’i.

Sholat Tarawih 8 atau 20 Rakaat, Mana yang Lebih Utama?

Para ulama sepakat bahwa tarawih adalah ibadah sunnah yang jumlah rakaatnya bersifat fleksibel. Hal ini didasarkan pada beragamnya riwayat dari Rasulullah ﷺ mengenai jumlah rakaat dalam sholat malam dengan berbagai penilaian terhadap riwayat-riwayat yang ada.

Ada sebuah ungkapan menarik yang disampaikan oleh Ibnu Taimiyah:

وَمَنْ ظَنَّ أَنَّ قِيَامَ رَمَضَانَ فِيهِ عَدَدٌ مُوَقَّتٌ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لا يُزَادُ فِيهِ وَلا يُنْقَصُ مِنْهُ فَقَدْ أَخْطَأَ

Artinya: “Barang siapa beranggapan bahwa shalat malam di bulan Ramadhan ditentukan jumlah rakaatnya secara pasti oleh Nabi ﷺ , tanpa boleh ada penambahan atau pengurangan, maka anggapan tersebut adalah kekeliruan.” (Majmu Fatawa, 22/272)

Penekanan yang paling utama dalam keutamaan pelaksanaan sholat malam terletak pada 2 aspek. Aspek pertama adalah pada panjang dan khusyunya sholat sebagaimana hadits Aisyah di atas. Aspek yang kedua adalah sebagaimana hadits dari Ibnu Umar ra:

صلاةُ الليلِ مَثْنَى مَثْنَى ، فإذا خشِي أحدُكم الصُّبحَ، صلَّى ركعةً واحدةً تُوتِرُ له ما قدْ صلَّى

Artinya: “Shalat malam dikerjakan dua rakaat-dua rakaat. Jika seseorang khawatir waktu Subuh segera tiba, maka cukup menutupnya dengan satu rakaat witir agar shalatnya menjadi ganjil.”

Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ melaksanakan shalat malam dalam bilangan yang tak terhitung dan dengan durasi yang panjang hingga seringkali beliau dan para sahabat melakukan shalat malam hingga mendekati waktu Shubuh. Maka hadits ini menjadi sebuah pedoman mengenai tidak ditetapkannya bilangan pasti dalam sholat malam.

Maka mengenai mana yang lebih utama, penulis sepakat dengan apa yang dikatakan oleh Ibnu Taimiyah dalam Majmu Fatawa (23/113):

والأفضل في ذلك يختلف باختلاف أحوال المصلين، فإن كان فيهم احتمال لطول القيام -أي: يستطيعون أن يصلوا صلاة طويلة- فالقيام بعشر ركعات وثلاث بعدها، كما كان النبي صلى الله عليه وسلم يصلي بنفسه في رمضان وغيره، وهو الأفضل على رواية؛ لأن الروايات المشهورة إحدى عشرة ركعة.

وإن كانوا لا يحتملون فالقيام بعشرين هو الأفضل، وهو الذي يعمل به أكثر المسلمين، فإنه وسط بين العشر وبين الأربعين.

Artinya: “Jumlah rakaat shalat malam yang paling utama menyesuaikan kemampuan pelaksananya. Jika kuat menjalankan shalat yang panjang, maka sepuluh rakaat ditambah tiga rakaat witir adalah yang paling utama, sebagaimana praktik Nabi. Namun jika tidak sanggup shalat panjang, maka dua puluh rakaat lebih baik. Jumlah ini juga yang diamalkan oleh mayoritas umat Islam, karena berada di tengah antara sepuluh dan empat puluh rakaat.”

Dengan demikian, keutamaan tarawih tidak terletak pada angka rakaat, tetapi pada kekhusyukan, ketenangan, dan kemampuan jamaah untuk istiqamah dan mempersembahkan sholat dengan kualitas terbaik.

Kesimpulan

Sholat tarawih 8 rakaat maupun 20 rakaat sama-sama memiliki dasar dalil yang kuat dan diamalkan oleh para ulama. Umat Islam tidak perlu mempertentangkan perbedaan ini. Yang paling utama adalah melaksanakan sholat tarawih dengan penuh keimanan, kekhusyukan dan menjadikannya sarana mendekatkan diri kepada Allah. Ramadhan bukan waktu untuk memperbesar perbedaan, melainkan untuk memperbanyak ibadah dan memperkuat ukhuwah.

Semoga dengan mengetahui penjelasan sholat tarawih ini, kita dapat berlomba untuk beribadah di bulan Ramadhan. Salah satu ibadah yang memiliki banyak keutamaan di bulan Ramadhan adalan Umroh Ramadhan yang pahalanya setara dengan haji bersama Rasulullah. Bagi Anda yang ingin mendapat pahala tersebut, dapat mempercayakan perjalanan umroh bersama jejak imani.

jejak imani adalah travel haji dan umroh sejak tahun 2012 dengan nama PT JEJAK IMANI BERKAH BERSAMA yang sudah berizin resmi sebagai Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) dan Penyelenggara Ibadah Haji Khusus (PIHK). Anda juga bisa menanyakanan dan konsultasi dengan tim jejak imani terkait kebutuhan selama ibadah umroh di Tanah Suci.

Wallahua’lam bisshowab.

Dilihat 5 kali